Pada perang dunia ke-2, terdapat banyak sekali pertempuran. Sekutu dan pihak poros sama-sama bertempur dan mengerahkan kekuatan militernya untuk menguasai wilayah baru atau mempertahankannya. Tak heran, banyaknya pertempuran membuat kedua pihak harus mengakomodir persenjataan dan pasukan di berbagai front pertempuran.
Umumnya, kita
mengenal empat front dalam perang dunia 2, yakni front barat, timur, selatan (atau
lebih dikenal dengan front Afrika Utara) dan terakhir front Asia-Pasifik.
Dalam artikel kali
ini, kita akan membahas seorang jenderal yang berperan penting dan sangat
berpengaruh di dalam perang dunia 2, terutama dalam pelbagai pertempuran di
front Afrika Utara. Siapakah ia? Yep, dia adalah Erwin Rommel.
Nama lengkapnya adalah Johannes Erwin Eugen Rommel. Ia lahir pada 15 November 1891 di sebuah kota kecil yang masih masuk kerajaan Wurttemberg, Kekaisaran Jerman. Karir militernya dimulai ketika ia bergabung dengan resimen Infantri ke-124 Wurttemberg sebagai kadet. Lalu pada November 1911, Rommel berhasil menyelesaikan pendidikannya dan mendapat pangkat Letnan di Wehrmacht. Ia ditugaskan di Ulm pada 1914 di resimen artileri lapangan ke 46. Namun, ia kembali ke resimen infantri saat jerman menyatakan perang
![]() |
| Erwin Rommel |
Namanya bersinar,
setelah berhasil memukul mundur pasukan sekutu dalam pertempuran El-Alamein
pertama. Saat itu dirinya menjabat sebagai panglima pasukan lapis baja divisi
panser dan korps afrika. Karena keahliannya dalam mengatur strategi dan taktik
dalam berperang membuat ia mendapat julukan “Rubah Gurun Pasir” oleh para
jenderal musuh bahkan ia dipuji oleh perdana Menteri inggris yang menjabat saat
itu, Winston Churchill.
![]() |
| Seragam Afrika Korps yang menjadi kebanggaan Rommel |
Akhir hayat sang
jenderal yang pernah dianugerahi Pour
de Mérite (sebuah bintang jasa yang dianugerahi kepada golongan militer
dan sipil yang terhormat) ini terbilang cukup ironis jika dibandingkan dengan
karir dan prestasi militernya. Pada 20 Juli 1944, para jenderal Nazi menginisiasi
sebuah rencana untuk membunuh sang Führer, rencana ini dikenal dengan
nama “Operasi Valkyrie”. Dari sekian banyak nama, Erwin Rommel masuk ke
dalamnya.
Pada
14 Oktober 1944 ia didatangi oleh Jenderal Wilhelm Burgdorf dan Mayjen Ernst
Maisel. Setelah menyampaikan maksud kedatangannya, Rommel diberi dua pilihan,
diadili di pengadilan namun keluarganya terancam atau bunuh diri dengan jaminan
ia akan dimakamkan dengan terhormat dan hidup keluarganya dijamin. Kedua Opsi
ini sama-sama bermuara pada satu kata yakni kematian. Namun, Rommel lebih memilih
opsi kedua. Pada 14 Oktober 1944, di hari yang sama Erwin Rommel sang Rubah
Gurun Pasir Meninggal Dunia



.jpg)