Pada perang dunia kedua, Jerman
di bawah kepemimpinan om kumis kotak dapat menaklukan sebagian negara sekutu di
Eropa Barat seperti Belanda, Belgia, dan Perancis hanya dalam kurun waktu kurang
lebih enam minggu saja. Sebuah penaklukan yang cukup singkat, mengingat Jerman
melakukannya hanya seorang diri.
Pertanyaannya, taktik apa yang
dipakai jerman untuk melakukan hal mustahil ini? Yep, jawabannya adalah Blitzkrieg.
Blitzkrieg sendiri
berasal dari bahasa Jerman yang berarti serangan kilat. Seperti
namanya, serangan ini sangat mengandalkan kecepatan dan mobilitas tinggi dalam
melakukan manuver serangannya, terutama kendaraan lapis baja yang diujung tombaki
oleh infantri serta dukungan pesawat tempur yang terkoordinasi dengan baik
dalam jarak yang dekat.
Taktik ini mulai digunakan
secara efektif saat Jerman menginvasi Polandia pada tahun 1939. Berkat
efektivitasnya, taktik ini kemudian melejit dan terkenal dikalangan sekutu.
Semua ini tidak terlepas dari peran salah seorang perwira Jerman itu sendiri,
dia adalah Heinz Wilhelm Guderian. Ia mengembangkan lebih jauh taktik
yang digunakan oleh Alexsei Brusilov, seorang jenderal dari Kekaisaran Rusia
saat pertempuran Tannenberg yang sebelumnya sudah sedikit disempurnakan oleh Paul
Von Hindenburg dan Erich Luddendorf.
Pada 22 Juni 1941, secara
mengejutkan Jerman memutuskan untuk menyerang Uni Soviet. Padahal, dua tahun sebelumnya
Jerman dan Uni Soviet meyepakati Pakta Non Agresi. Serbuan Jerman ini lebih
dikenal dengan nama Operasi Barbarossa.
Tentu saja, Taktik Blitzkrieg
dirasa sangat cocok untuk operasi militer ini. Taktik blitzkrieg digunakan
dalam skala yang jauh lebih besar dari pertempuran-pertempuran sebelumnya.
Terbukti semua berjalan dengan baik pasukan Jerman berhasil menghancurkan
tank-tank serta pesawat tempur milik Uni Soviet dan menawan kurang lebih
300.000 pasukan. Ini membuat om kumis kotak optimis semuanya akan dicapai dalam
waktu kurang lebih 10 minggu.
Selain memerlukan mobilitas yang
tinggi taktik ini juga sangat bergantung terhadap ketersediaan bahan bakar
(mengingat manuver tinggi dan cepat yang diusung taktik ini). Itulah sebabnya
mengapa pasukan Jerman harus terus bertempur untuk mencapai ladang minyak Uni
Soviet di daerah Baku, Azerbaijan sebelum musim dingin tiba.
Sayangnya, taktik brilian ini harus berakhir melawan
ganasnya alam Uni Soviet. Pada 1941 musim dingin tiba. Mesin-mesin perang Jerman mati akibat
suhu ekstrim. Persediaan bahan bakar dan logistik menipis.
Selain itu pasukan Jerman juga tidak dibekali pakaian musim dingin yang layak.
Akibatnya, ratusan ribu tentara Jerman tewas bukan akibat peluru, namun akibat
kejamnya alam Uni Soviet
0 komentar:
Posting Komentar