Histocraf membahas mengenai Sejarah, Asal usul, Politik, Ekonomi, dan sebagainya. Mari membuat sejarah menjadi lebih baik

Sabtu, 12 Maret 2022

Blitzkrieg, Taktik Jerman Yang Mematikan




Pada perang dunia kedua, Jerman di bawah kepemimpinan om kumis kotak dapat menaklukan sebagian negara sekutu di Eropa Barat seperti Belanda, Belgia, dan Perancis hanya dalam kurun waktu kurang lebih enam minggu saja. Sebuah penaklukan yang cukup singkat, mengingat Jerman melakukannya hanya seorang diri.

Pertanyaannya, taktik apa yang dipakai jerman untuk melakukan hal mustahil ini? Yep, jawabannya adalah Blitzkrieg.

Blitzkrieg sendiri berasal dari bahasa Jerman yang berarti serangan kilat. Seperti namanya, serangan ini sangat mengandalkan kecepatan dan mobilitas tinggi dalam melakukan manuver serangannya, terutama kendaraan lapis baja yang diujung tombaki oleh infantri serta dukungan pesawat tempur yang terkoordinasi dengan baik dalam jarak yang dekat.

Taktik ini mulai digunakan secara efektif saat Jerman menginvasi Polandia pada tahun 1939. Berkat efektivitasnya, taktik ini kemudian melejit dan terkenal dikalangan sekutu. Semua ini tidak terlepas dari peran salah seorang perwira Jerman itu sendiri, dia adalah Heinz Wilhelm Guderian. Ia mengembangkan lebih jauh taktik yang digunakan oleh Alexsei Brusilov, seorang jenderal dari Kekaisaran Rusia saat pertempuran Tannenberg yang sebelumnya sudah sedikit disempurnakan oleh Paul Von Hindenburg dan Erich Luddendorf.

Pada 22 Juni 1941, secara mengejutkan Jerman memutuskan untuk menyerang Uni Soviet. Padahal, dua tahun sebelumnya Jerman dan Uni Soviet meyepakati Pakta Non Agresi. Serbuan Jerman ini lebih dikenal dengan nama Operasi Barbarossa.

Tentu saja, Taktik Blitzkrieg dirasa sangat cocok untuk operasi militer ini. Taktik blitzkrieg digunakan dalam skala yang jauh lebih besar dari pertempuran-pertempuran sebelumnya. Terbukti semua berjalan dengan baik pasukan Jerman berhasil menghancurkan tank-tank serta pesawat tempur milik Uni Soviet dan menawan kurang lebih 300.000 pasukan. Ini membuat om kumis kotak optimis semuanya akan dicapai dalam waktu kurang lebih 10 minggu.

Selain memerlukan mobilitas yang tinggi taktik ini juga sangat bergantung terhadap ketersediaan bahan bakar (mengingat manuver tinggi dan cepat yang diusung taktik ini). Itulah sebabnya mengapa pasukan Jerman harus terus bertempur untuk mencapai ladang minyak Uni Soviet di daerah Baku, Azerbaijan sebelum musim dingin tiba.

Sayangnya, taktik brilian ini harus berakhir melawan ganasnya alam Uni Soviet. Pada 1941 musim dingin tiba. Mesin-mesin perang Jerman mati akibat suhu ekstrim. Persediaan bahan bakar dan logistik menipis. Selain itu pasukan Jerman juga tidak dibekali pakaian musim dingin yang layak. Akibatnya, ratusan ribu tentara Jerman tewas bukan akibat peluru, namun akibat kejamnya alam Uni Soviet

 

 

 

 

 

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini