| skuad timnas inggris tahun 1966 |
Formasi adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dalam
sepakbola. Keberadaannya sangat penting bahkan bisa dibilang vital di dalam
olahraga yang menyabet gelar paling populer di dunia ini. Penggunaan formasi tentu
bertujuan untuk memenangkan sebuah pertandingan. Dengan penyusunan formasi yang
baik, diharapkan para pelatih mampu untuk menampilkan skema serangan dan
bertahan yang sama baiknya.
Kamu mungkin tak asing dengan nama seperti Pep
Guardiola, Antonio Conte, Jose Mourinho, Sir Alex Ferguson, dsb. Ya, mereka adalah para pelatih berpengalaman
dengan segudang formasi dan strategi yang sangat khas. Ada Pep yang dikenal
dengan skema segitiga Tiki-Taka nya,
Jose Mourinho dengan cenderung menempatkan banyak pemain di belakang atau
dikenal dengan Parking Bus, ada pula SAF yang lebih mengandalkan likuiditas antar
penyerang di lini depan.
Membahas sebuah formasi tentu kita tak akan bisa
melewatkan salah satu formasi legendaris yakni 4-4-2 (flat). Formasi yang
mengantarkan Arsenal meraih The Invicible (tim yang tidak pernah terkalahkan
dalam satu musim) musim 2003-2004 ini sangat menarik di bahas. Bukan hanya
Arsenal yang pernah merasakan manisnya taktik ini, ada juga Manchester United yang
menggunakan formasi ini ketika meraih Treble Winner pada musim 1998-1999,
Sejarah awal formasi
4–4–2 pertama kali ditemukan oleh pelatih asal Ukraina (waktu itu masih bagian dari
Uni Soviet) yakni Viktor Maslov pada dekade 1960-an. Sangat berbeda dengan yang
kita lihat di Inggris, 4–4–2 ala Maslov tidak mengenal peran pemain
sayap. Formasi ini banyak diadopsi terutama dalam budaya sepakbola Inggris.
Di beberapa negara lain yang memiliki filosofi sepakbolanya sendiri, formasi
ini tidak pernah mencapai taraf populer seperti di inggris.
| formasi 4-4-2 ala Maslov |
Formasi ini menjadi semakin populer di
Inggris ketika filosofi kick and rush mendominasi sejak era
1970-an. Karena bentuknya yang seimbang, ia memudahkan taktik bola-bola panjang
yang banyak mengeksploitasi sisi lebar lapangan. Formasi ini dirasa cocok karena dalam filosofi ini idealnya gol bisa dicetak
dengan hanya tiga sentuhan; operan panjang dari belakang menuju sayap atau
salah satu penyerang, lalu dipantulkan kepada ujung tombak yang melakukan
sentuhan akhir. Beres.
Formasi ini kian meredup seiring berkembangnya gaya
high press tinggi. Tim yang menggunakan formasi 4-4-2 cenderung akan
menciptakan peluang lewat crossing, namun skema ini dapat diantisipasi dengan
high press sehingga winger akan sulit mencari ruang. Dalam skema menyerang para
pelatih lebih mengandalkan formasi 3-5-2 atau 4-3-3 dengan opsi agar
menciptakan superioritas atau menang jumlah di lini tengah.
Selain itu, berkembangnya build-up dari bawah membuat
formasi 4-4-2 menjadi semakin meredup. Ini dikarenakan jauhnya area jangkauan
antar lini seperti bek sayap dan winger yang harus mengcover area yang cukup
luas. Bentuk umum dari formasi ini yang masih sering digunakan adalah 4-4-2
(diamond). Kabar baiknya formasi ini tidak sepenuhnya ditinggalkan. Para
pelatih masa kini seperti Andrea Pirlo saat melatih Juventus lebih sering
menggunakan formasi 4-4-2 sebagai basic bertahan dikarenakan bentuknya yang
rapat dan menyulitkan lawan dalam menyerang
0 komentar:
Posting Komentar