Histocraf membahas mengenai Sejarah, Asal usul, Politik, Ekonomi, dan sebagainya. Mari membuat sejarah menjadi lebih baik

Selasa, 15 Maret 2022

Bagaimana Sejarah Dan Evolusi Formasi 4-4-2 Dalam Sepakbola Inggris

 

skuad timnas inggris tahun 1966

Formasi adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dalam sepakbola. Keberadaannya sangat penting bahkan bisa dibilang vital di dalam olahraga yang menyabet gelar paling populer di dunia ini. Penggunaan formasi tentu bertujuan untuk memenangkan sebuah pertandingan. Dengan penyusunan formasi yang baik, diharapkan para pelatih mampu untuk menampilkan skema serangan dan bertahan yang sama baiknya.

Kamu mungkin tak asing dengan nama seperti Pep Guardiola, Antonio Conte, Jose Mourinho, Sir Alex Ferguson,  dsb. Ya, mereka adalah para pelatih berpengalaman dengan segudang formasi dan strategi yang sangat khas. Ada Pep yang dikenal dengan skema  segitiga Tiki-Taka nya, Jose Mourinho dengan cenderung menempatkan banyak pemain di belakang atau dikenal dengan Parking Bus, ada pula SAF yang lebih mengandalkan likuiditas antar penyerang di lini depan.

Membahas sebuah formasi tentu kita tak akan bisa melewatkan salah satu formasi legendaris yakni 4-4-2 (flat). Formasi yang mengantarkan Arsenal meraih The Invicible (tim yang tidak pernah terkalahkan dalam satu musim) musim 2003-2004 ini sangat menarik di bahas. Bukan hanya Arsenal yang pernah merasakan manisnya taktik ini, ada juga Manchester United yang menggunakan formasi ini ketika meraih Treble Winner pada musim 1998-1999,

Sejarah awal formasi 4–4–2 pertama kali ditemukan oleh pelatih asal Ukraina (waktu itu masih bagian dari Uni Soviet) yakni Viktor Maslov pada dekade 1960-an. Sangat berbeda dengan yang kita lihat di Inggris, 4–4–2 ala Maslov tidak mengenal peran pemain sayap. Formasi ini banyak diadopsi terutama dalam budaya sepakbola Inggris. Di beberapa negara lain yang memiliki filosofi sepakbolanya sendiri, formasi ini tidak pernah mencapai taraf populer seperti di inggris.


formasi 4-4-2 ala Maslov


Formasi ini menjadi semakin populer di Inggris ketika filosofi kick and rush mendominasi sejak era 1970-an. Karena bentuknya yang seimbang, ia memudahkan taktik bola-bola panjang yang banyak mengeksploitasi sisi lebar lapangan. Formasi ini dirasa cocok karena dalam filosofi ini idealnya gol bisa dicetak dengan hanya tiga sentuhan; operan panjang dari belakang menuju sayap atau salah satu penyerang, lalu dipantulkan kepada ujung tombak yang melakukan sentuhan akhir. Beres.

Formasi ini kian meredup seiring berkembangnya gaya high press tinggi. Tim yang menggunakan formasi 4-4-2 cenderung akan menciptakan peluang lewat crossing, namun skema ini dapat diantisipasi dengan high press sehingga winger akan sulit mencari ruang. Dalam skema menyerang para pelatih lebih mengandalkan formasi 3-5-2 atau 4-3-3 dengan opsi agar menciptakan superioritas atau menang jumlah di lini tengah.

Selain itu, berkembangnya build-up dari bawah membuat formasi 4-4-2 menjadi semakin meredup. Ini dikarenakan jauhnya area jangkauan antar lini seperti bek sayap dan winger yang harus mengcover area yang cukup luas. Bentuk umum dari formasi ini yang masih sering digunakan adalah 4-4-2 (diamond). Kabar baiknya formasi ini tidak sepenuhnya ditinggalkan. Para pelatih masa kini seperti Andrea Pirlo saat melatih Juventus lebih sering menggunakan formasi 4-4-2 sebagai basic bertahan dikarenakan bentuknya yang rapat dan menyulitkan lawan dalam menyerang

 

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini