Histocraf membahas mengenai Sejarah, Asal usul, Politik, Ekonomi, dan sebagainya. Mari membuat sejarah menjadi lebih baik

Sabtu, 26 Maret 2022

Rubah Gurun Pasir Itu Bernama Erwin Rommel

Pada perang dunia ke-2, terdapat banyak sekali pertempuran. Sekutu dan pihak poros sama-sama bertempur dan mengerahkan kekuatan militernya untuk menguasai wilayah baru atau mempertahankannya. Tak heran, banyaknya pertempuran membuat kedua pihak harus mengakomodir persenjataan dan pasukan di berbagai front pertempuran.

Umumnya, kita mengenal empat front dalam perang dunia 2, yakni front barat, timur, selatan (atau lebih dikenal dengan front Afrika Utara) dan terakhir front Asia-Pasifik.

Dalam artikel kali ini, kita akan membahas seorang jenderal yang berperan penting dan sangat berpengaruh di dalam perang dunia 2, terutama dalam pelbagai pertempuran di front Afrika Utara. Siapakah ia? Yep, dia adalah Erwin Rommel.

Nama lengkapnya adalah Johannes Erwin Eugen Rommel. Ia lahir pada 15 November 1891 di sebuah kota kecil yang masih masuk kerajaan Wurttemberg, Kekaisaran Jerman. Karir militernya dimulai ketika ia bergabung dengan resimen Infantri ke-124 Wurttemberg sebagai kadet. Lalu pada November 1911, Rommel berhasil menyelesaikan pendidikannya dan mendapat pangkat Letnan di Wehrmacht. Ia ditugaskan di Ulm pada 1914 di resimen artileri lapangan ke 46. Namun, ia kembali ke resimen infantri saat jerman menyatakan perang


Erwin Rommel

Namanya bersinar, setelah berhasil memukul mundur pasukan sekutu dalam pertempuran El-Alamein pertama. Saat itu dirinya menjabat sebagai panglima pasukan lapis baja divisi panser dan korps afrika. Karena keahliannya dalam mengatur strategi dan taktik dalam berperang membuat ia mendapat julukan “Rubah Gurun Pasir” oleh para jenderal musuh bahkan ia dipuji oleh perdana Menteri inggris yang menjabat saat itu, Winston Churchill.


Seragam Afrika Korps yang menjadi kebanggaan Rommel


Akhir hayat sang jenderal yang pernah dianugerahi Pour de Mérite (sebuah bintang jasa yang dianugerahi kepada golongan militer dan sipil yang terhormat) ini terbilang cukup ironis jika dibandingkan dengan karir dan prestasi militernya. Pada 20 Juli 1944, para jenderal Nazi menginisiasi sebuah rencana untuk membunuh sang Führer, rencana ini dikenal dengan nama “Operasi Valkyrie”. Dari sekian banyak nama, Erwin Rommel masuk ke dalamnya.

Pada 14 Oktober 1944 ia didatangi oleh Jenderal Wilhelm Burgdorf dan Mayjen Ernst Maisel. Setelah menyampaikan maksud kedatangannya, Rommel diberi dua pilihan, diadili di pengadilan namun keluarganya terancam atau bunuh diri dengan jaminan ia akan dimakamkan dengan terhormat dan hidup keluarganya dijamin. Kedua Opsi ini sama-sama bermuara pada satu kata yakni kematian. Namun, Rommel lebih memilih opsi kedua. Pada 14 Oktober 1944, di hari yang sama Erwin Rommel sang Rubah Gurun Pasir Meninggal Dunia

 

 

 

 

 

 

 

Read More

Kamis, 24 Maret 2022

Mengenal Lebih Dalam Ungkapan “Banyak Jalan Menuju Roma”

Mungkin kamu pernah mendengar ungkapan seperti judul topik artikel kali ini. Ungkapan ini sangat familiar bahkan sering diucapkan oleh banyak orang, mengingat kalimatnya yang sederhana dan terdengar sangat estetik. Namun, tahukah kamu jika ungkapan yang muncul pertama kali pada masa Kekaisaran Romawi ini memiliki makna yang lain?

Ungkapan ini, umumnya akan diucapkan seseorang ketika menasihati atau mungkin menemui jalan buntu saat tujuannya tidak tercapai. Yep, makna pertama akan berarti ‘untuk meraih sesuatu, kita tak sepatutnya terpaku hanya dalam satu cara atau jalan’. Di makna pertama, kita juga bisa mengambil pesan positif yakni, jangan mudah menyerah dalam meraih tujuan. Ketika satu jalan tertutup, maka akan ada jalan lain yang bisa dicoba dan terbuka lebar

Namun, selain memiliki makna yang motivatif, ada makna lain yang menjadi penyebab munculnya ungkapan ini. Semua bermula, ketika Kekaisaran Romawi mulai membangun infrastruktur untuk menghubungkan wilayah kekuasaannya yang luas. Rencana kekaisaran Romawi untuk mulai menghubungkan wilayahnya, sudah terlihat semenjak abad ketiga sebelum masehi. Romawi gencar membangun jalan-jalan yang bukan hanya terdiri dari jalanan besar namun juga jalan kecil. Selain berfungsi untuk jalur perdagangan, hal ini juga bertujuan untuk mempercepat lajur mobilisasi pasukan dari satu kota ke kota lainnya


Jalan di salah satu desa di Roma, Italia


Pembangunan ini semakin pesat ketika era kepemimpinan Kaisar Augustus penerus Julius Caesar. Kekaisaran Romawi menempatkan kota Roma menjadi pusat dari seluruh jaringan jalan ini. Selain itu, infrastruktur jalan yang dibangun Romawi dikenal memiliki kualitas dan daya tahan yang baik. Campuran utama dari pembuatan jalan ini adalah beton pozzolona yang merupakan campuran dari abu vulkanik dan batu kapur. Tak heran, teknologi Romawi saat itu menjadi salah satu yang terbaik.


Kota Roma menjadi pusat dari seluruh jaringan jalan

Daya tahan dan kualitas jalan yang tak mudah rusak, adalah hal yang diutamakan oleh Kekaisaran sebesar Romawi. Disamping karena wilayahnya yang luas, hal lainnya adalah untuk menghemat anggaran negara terlebih saat itu Romawi sedang gencar melakukan perluasan wilayah kekuasaan. Bersamaan dengan penguasaan perairan terutama laut tengah, maka roda ekonomi Romawi semakin melaju pesat dari bangsa-bangsa lain. Sehingga, kita mengenal istilah “Pax Romana” atau “Roman Peace”.

 

Hai Histocrafian, terimakasih sudah membaca!

 

 

 

 

 

 

 

Read More

Jumat, 18 Maret 2022

Mengapa Seragam Pasukan Nazi Jerman Terlihat Begitu Stylish

Pada perang dunia ke 2, Jerman yang merupakan tokoh utama dalam perang ini bukan saja dikenal menjadi negara yang ditakuti karena strategi dan taktik blitzkrieg nya, namun juga karena seragam militer yang dipakai oleh para prajuritnya. 

Pernahkah kamu memperhatikan seragam dari para pasukan Jerman? Jika pernah tentu hal pertama yang terlintas di pikiranmu adalah “keren, gagah, dan stylish”. Ketika melihat pose para perwira Nazi, kamu akan sadar dan sedikit heran dengan seragam yang digunakan oleh mereka. Ya, seragam pasukan Jerman terlihat seperti lebih stylish dan keren dibanding seragam tentara negara-negara lain seperti Rusia, Inggris, Amerika Serikat, Perancis, dsb. Hal ini bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang pertama mungkin karena potongan rambut para pasukan Jerman yang dikenal sangat rapih dan sangat cocok dengan desain seragam atau mungkin karena reputasi militer Jerman yang mentereng pada saat itu. 

Hal ini, bukan merupakan sebuah kebetulan. Pasalnya selain melakukan propaganda lewat surat kabar, majalah, maupun radio, pemerintahan Nazi juga menggunakan fesyen sebagai alat propaganda. Dengan di desainnya seragam yang memiliki kesan gagah dan keren, om kumis kotak yang merupakan pimpinan tertingginya ingin menunjukkan pada dunia bahwa pasukan-pasukannya memiliki keberanian, ketangguhan, dll. Hal ini, sejalan dengan prinsip yang dipegang Menteri Propaganda Nazi Joseph Goebbels yakni, menyebarluaskan berita bohong melalui media massa sebanyak dan sesering mungkin hingga kebohongan itu dianggap sebagai kebenaran.


Pose Reynhard Heydrich, salah satu perwira Nazi


Tak tanggung-tanggung dalam upaya mewujudkan propaganda ini, om kumis kotak sampai menggaet salah satu brand ternama untuk memproduksi seragam milik Nazi. Kamu mungkin tak asing dengan nama brand yang satu ini. Yep, brand tersebut bernama Hugo Boss. Sudah jadi rahasia umum, bahwa Hugo Boss menjadi brand dibalik keren dan gagahnya seragam milik pasukan Nazi. Sebenarnya, ada beberapa brand yang juga sempat digaet untuk memproduksi seragam Nazi ini, namun diantara brand-brand ini, Hugo Boss lah yang paling terkenal. 

Berdiri pada tahun 1924 dengan pendirinya Hugo Ferdinand Boss di Metzinger. Awalnya, perusahaan ini bergerak di bidang usaha manufaktur kecil-kecilan yang memproduksi berbagai jenis pakaian, seperti jas hujan, kemeja, pakaian olahraga, dan baju kerja. Sebelum digaet oleh om kumis kotak, Hugo Boss hampir mengalami kebangkrutan. Namun, ketika meletusnya perang dunia kedua dan menerima pesanan dari sang pimpinan Jerman tersebut, perlahan Hugo Boss dapat menutupi biaya operasionalnya. 


Berbagai jenis tipe seragam milik Nazi yang diproduksi oleh Hugo Boss


Hugo Boss tetap menjadi otak dibalik gagahnya seragam SA, SS, Hitlerjugend dan seluruh seragam milik Nazi sampai pelarangannya di tahun 1946. Hal ini tidak berlaku untuk pasukan regular Jerman (Wehrmacht), dikarenakan Wehrmacht umumnya sudah memiliki designer dan perusahaan yang meproduksi seragamnya sendiri, namun hanya ditambah emblem-emblem milik Nazi. Sejak pencabutan larangan pada tahun 1950, Hugo Boss terus berusaha untuk bangkit dan akhirnya terus melaju hingga dikenal sampai saat ini. 


 Hi Histocrafian! Terimakasih sudah membaca


Read More

Selasa, 15 Maret 2022

Bagaimana Sejarah Dan Evolusi Formasi 4-4-2 Dalam Sepakbola Inggris

 

skuad timnas inggris tahun 1966

Formasi adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dalam sepakbola. Keberadaannya sangat penting bahkan bisa dibilang vital di dalam olahraga yang menyabet gelar paling populer di dunia ini. Penggunaan formasi tentu bertujuan untuk memenangkan sebuah pertandingan. Dengan penyusunan formasi yang baik, diharapkan para pelatih mampu untuk menampilkan skema serangan dan bertahan yang sama baiknya.

Kamu mungkin tak asing dengan nama seperti Pep Guardiola, Antonio Conte, Jose Mourinho, Sir Alex Ferguson,  dsb. Ya, mereka adalah para pelatih berpengalaman dengan segudang formasi dan strategi yang sangat khas. Ada Pep yang dikenal dengan skema  segitiga Tiki-Taka nya, Jose Mourinho dengan cenderung menempatkan banyak pemain di belakang atau dikenal dengan Parking Bus, ada pula SAF yang lebih mengandalkan likuiditas antar penyerang di lini depan.

Membahas sebuah formasi tentu kita tak akan bisa melewatkan salah satu formasi legendaris yakni 4-4-2 (flat). Formasi yang mengantarkan Arsenal meraih The Invicible (tim yang tidak pernah terkalahkan dalam satu musim) musim 2003-2004 ini sangat menarik di bahas. Bukan hanya Arsenal yang pernah merasakan manisnya taktik ini, ada juga Manchester United yang menggunakan formasi ini ketika meraih Treble Winner pada musim 1998-1999,

Sejarah awal formasi 4–4–2 pertama kali ditemukan oleh pelatih asal Ukraina (waktu itu masih bagian dari Uni Soviet) yakni Viktor Maslov pada dekade 1960-an. Sangat berbeda dengan yang kita lihat di Inggris, 4–4–2 ala Maslov tidak mengenal peran pemain sayap. Formasi ini banyak diadopsi terutama dalam budaya sepakbola Inggris. Di beberapa negara lain yang memiliki filosofi sepakbolanya sendiri, formasi ini tidak pernah mencapai taraf populer seperti di inggris.


formasi 4-4-2 ala Maslov


Formasi ini menjadi semakin populer di Inggris ketika filosofi kick and rush mendominasi sejak era 1970-an. Karena bentuknya yang seimbang, ia memudahkan taktik bola-bola panjang yang banyak mengeksploitasi sisi lebar lapangan. Formasi ini dirasa cocok karena dalam filosofi ini idealnya gol bisa dicetak dengan hanya tiga sentuhan; operan panjang dari belakang menuju sayap atau salah satu penyerang, lalu dipantulkan kepada ujung tombak yang melakukan sentuhan akhir. Beres.

Formasi ini kian meredup seiring berkembangnya gaya high press tinggi. Tim yang menggunakan formasi 4-4-2 cenderung akan menciptakan peluang lewat crossing, namun skema ini dapat diantisipasi dengan high press sehingga winger akan sulit mencari ruang. Dalam skema menyerang para pelatih lebih mengandalkan formasi 3-5-2 atau 4-3-3 dengan opsi agar menciptakan superioritas atau menang jumlah di lini tengah.

Selain itu, berkembangnya build-up dari bawah membuat formasi 4-4-2 menjadi semakin meredup. Ini dikarenakan jauhnya area jangkauan antar lini seperti bek sayap dan winger yang harus mengcover area yang cukup luas. Bentuk umum dari formasi ini yang masih sering digunakan adalah 4-4-2 (diamond). Kabar baiknya formasi ini tidak sepenuhnya ditinggalkan. Para pelatih masa kini seperti Andrea Pirlo saat melatih Juventus lebih sering menggunakan formasi 4-4-2 sebagai basic bertahan dikarenakan bentuknya yang rapat dan menyulitkan lawan dalam menyerang

 

Read More

Sabtu, 12 Maret 2022

Blitzkrieg, Taktik Jerman Yang Mematikan




Pada perang dunia kedua, Jerman di bawah kepemimpinan om kumis kotak dapat menaklukan sebagian negara sekutu di Eropa Barat seperti Belanda, Belgia, dan Perancis hanya dalam kurun waktu kurang lebih enam minggu saja. Sebuah penaklukan yang cukup singkat, mengingat Jerman melakukannya hanya seorang diri.

Pertanyaannya, taktik apa yang dipakai jerman untuk melakukan hal mustahil ini? Yep, jawabannya adalah Blitzkrieg.

Blitzkrieg sendiri berasal dari bahasa Jerman yang berarti serangan kilat. Seperti namanya, serangan ini sangat mengandalkan kecepatan dan mobilitas tinggi dalam melakukan manuver serangannya, terutama kendaraan lapis baja yang diujung tombaki oleh infantri serta dukungan pesawat tempur yang terkoordinasi dengan baik dalam jarak yang dekat.

Taktik ini mulai digunakan secara efektif saat Jerman menginvasi Polandia pada tahun 1939. Berkat efektivitasnya, taktik ini kemudian melejit dan terkenal dikalangan sekutu. Semua ini tidak terlepas dari peran salah seorang perwira Jerman itu sendiri, dia adalah Heinz Wilhelm Guderian. Ia mengembangkan lebih jauh taktik yang digunakan oleh Alexsei Brusilov, seorang jenderal dari Kekaisaran Rusia saat pertempuran Tannenberg yang sebelumnya sudah sedikit disempurnakan oleh Paul Von Hindenburg dan Erich Luddendorf.

Pada 22 Juni 1941, secara mengejutkan Jerman memutuskan untuk menyerang Uni Soviet. Padahal, dua tahun sebelumnya Jerman dan Uni Soviet meyepakati Pakta Non Agresi. Serbuan Jerman ini lebih dikenal dengan nama Operasi Barbarossa.

Tentu saja, Taktik Blitzkrieg dirasa sangat cocok untuk operasi militer ini. Taktik blitzkrieg digunakan dalam skala yang jauh lebih besar dari pertempuran-pertempuran sebelumnya. Terbukti semua berjalan dengan baik pasukan Jerman berhasil menghancurkan tank-tank serta pesawat tempur milik Uni Soviet dan menawan kurang lebih 300.000 pasukan. Ini membuat om kumis kotak optimis semuanya akan dicapai dalam waktu kurang lebih 10 minggu.

Selain memerlukan mobilitas yang tinggi taktik ini juga sangat bergantung terhadap ketersediaan bahan bakar (mengingat manuver tinggi dan cepat yang diusung taktik ini). Itulah sebabnya mengapa pasukan Jerman harus terus bertempur untuk mencapai ladang minyak Uni Soviet di daerah Baku, Azerbaijan sebelum musim dingin tiba.

Sayangnya, taktik brilian ini harus berakhir melawan ganasnya alam Uni Soviet. Pada 1941 musim dingin tiba. Mesin-mesin perang Jerman mati akibat suhu ekstrim. Persediaan bahan bakar dan logistik menipis. Selain itu pasukan Jerman juga tidak dibekali pakaian musim dingin yang layak. Akibatnya, ratusan ribu tentara Jerman tewas bukan akibat peluru, namun akibat kejamnya alam Uni Soviet

 

 

 

 

 

Read More

Cari Blog Ini